Jumat, 01 Maret 2013

Pahlawan Sepi dari Negeri Kopi

Kisah Serangan Umum 1 Maret 

Kol Husein Yusuf Foto, Hardani Tri Yoga-Harian Detik
PENA News | Bila nanti Kabupaten Bireuen, Aceh, mempunyai Taman Makam Pahlawan, barangkali dua makam berdampingan di tempat sunyi itu akan menjadi cikal bakalnya. Meski tampak tak terurus dan sekelilingnya ditumbuhi ilalang, kedua makam tersebut berisi jasad tokoh yang amat penting dalam sejarah perjuangan Aceh, dan Indonesia.

Itulah makam Kolonel Husein Yusuf, bekas Panglima Divisi X Komandemen Sumatera Utara, Langkat dan Tanah Karo, dan istrinya, Letnan Dua Ummi Salamah. Kedua tokoh itu adalah inisiator berdirinya radio darurat Radio Rimba Raya pada Juli 1947.

Sejarawan Aceh, TA Talsya, mengatakan Kolonel Husein mengawali kariernya sebagai guru HIS (sekolah rakyat). Tapi peperangan kemudian membuatnya bergabung dengan Tentara Republik Indonesia, cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Puncak kariernya adalah saat Kolonel Husein diangkat menjadi Panglima Divisi X, setelah menjabat Kepala Divisi Gajah I. Adapun Divisi Gajah II dipimpin oleh Kolonel Ahmad Tahir. Kedua divisi ini digabungkan menjadi Divisi X.

"Kolonel Husein amat disegani pasukannya dan pasukan lawan," kata Talsya di Banda Aceh pekan lalu. Pada masa kepemimpinannya inilah, dia memesan seperangkat radio dari Malaya dan kemudian ditempatkan di salah satu kamar di rumahnya. Inilah cikal bakal Radio Rimba Raya.

Bagaimana dengan kisah sang istri, Letnan Dua Ummi Salamah? Rupanya, pada saat pesawat radio masih menjadi milik Divisi X, Ummi berjasa dalam memasok tenaga listrik. Biar perempuan, Letnan Ummi ternyata mahir soal listrik.

Diam-diam Ummi mencari kabel yang bisa mengantar tenaga ke pemancar yang berada di Pegunungan Krueng Simpo, 8 kilometer dari Bireuen. Letnan Ummi pun sesekali tampil sebagai penyiar di radio darurat itu.

"Beliau sering jadi penyiar pada sore hari dengan isi pesan memotivasi para pejuang," kata sejarawan Mukhtar Ibrahim.

Tapi perselisihan antara Divisi X dan Gubernur Militer Mayor Jenderal Tengku Muhammad Daud Beureueh, yang memerintah kawasan Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, mengubah situasi. Husein kehilangan jabatannya.

Perselisihan itu dipicu oleh upaya restrukturisasi gerilyawan ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Banyak anak buah Kolonel Husein yang akhirnya menjadi pengangguran karena dinilai tak layak.

Catatan Kolonel Arifin Pulungan, seorang bekas pembantu perwira operasi di Divisi X, yang dimuat dalam otobiografinya, Kisah dari Pedalaman, menyebut restrukturisasi dan pencopotan Kolonel Husein itu telah membangkitkan bibit perpecahan di Divisi X, meski akhirnya bisa diredam.

Di sinilah, Letnan Ummi, yang kala itu pejabat intel di Divisi X, mengusulkan pembentukan Tentara Pembangunan, yang ditugaskan membuka lahan dan bertani untuk menghidupi dirinya. Para bekas gerilyawan ini kemudian diutus ke sebuah belantara di jalan raya Bireuen-Takengon. Lahan yang mereka buka kemudian disebut Kampung Rimba Raya.

Bak sudah menjadi takdir, Kolonel Husein, yang memimpin Tentara Pembangunan, akhirnya "bersatu" kembali dengan radio yang dirintisnya. Soalnya, pemancar radio itu telah dikirim ke Rimba Raya demi menghindari penggerebekan pasukan Belanda pasca-agresi militer kedua pada 19 Desember 1949.

Kini jasad pasangan suami-istri itu bersemayam di Dusun Jeumpa Gampong, Geulumpang Payong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Makam sederhana itu hanya diurus oleh keluarga.

Menantu Kolonel Husein, Ali Rasyid Djuli, mengatakan pemerintah tak pernah memperhatikan makam mertuanya itu. Padahal mereka dinilainya layak disebut pahlawan.

Tapi, di sisi lain, Bireuen, salah satu daerah penghasil kopi yang enak di tanah Aceh, rupanya belum mempunyai Taman Makam Pahlawan. Djuli menyatakan, andai kata Bireuen nanti memiliki Taman Makam Pahlawan, mertuanya harus menjadi pendahulu.

"Awali dengan pemugaran makam Bapak dan Ibu," ujarnya.

SUMBER: DETIKdotCOM

0 komentar:

Poskan Komentar